Info Riau | Yuk Baca

Info Pekanbaru | Yuk Baca

Info Wisata | Yuk Travelling

Info Kampus | Yuk Baca

Post Page Advertisement [Top]

Ada Enam Kiat Sukses Menanggulangi Pandemi Covid-19, Menurut WHO
iniPKU.com - Dokumen rilis strategi update dari WHO dalam menanggulangi pandemi Covid-19. WHO menyampaikan bahwa kebijakan lockdown dapat dilonggarkan selama enam prasyarat kunci dipenuhi oleh negara.

Penerapan PSBB Kota Pekanbaru. Kurang lebih 8 hari sudah berlalu pelaksanaan PSBB di Kota Pekanbaru. Pelaksanaannya di mulai dari tanggal 17 April 2020.

Penerapan PSBB Kota Pekanbaru akan berakhir pada tanggal 30 April 2020, apakah akan ada masa perpanjangan atau tidak kita masih menunggu hasil evaluasi akhir nantinya.

Menurut WHO. Baru-baru ini WHO merilis dokumen Covid-19 Strategy Update. Apa saja isi dari dokumen tersebut ? Mari kita kenali secara singkat apa itu WHO.

Dilansir dari Wikipedia.org, Organisasi Kesehatan Dunia (bahasa Inggris: World Health Organization, sering disingkat WHO) adalah salah satu badan PBB yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional dan bermarkas di Jenewa, Swiss. WHO didirikan oleh PBB pada 7 April 1948.

Sebagai organisasi kesehatan dunia, WHO mempunyai tugas utama yaitu membasmi penyakit, khususnya penyakit menular yang sudah menyebar luas.

Oleh karena itu, dalam kasus wabah pandemi Covid-19, WHO memberikan beberapa rekomendasi dalam pelaksanaan menaggulangi wabah virus ini.

Dilansir dari Asumsi.co, Pekan lalu (14/4), World Health Organization (WHO) merilis dokumen "COVID-19 Strategy Update," kiat sukses menanggulangi pandemi COVID-19 berdasarkan temuan-temuan terkini. 

Dalam dokumen tersebut, WHO menyampaikan bahwa kebijakan lockdown dapat dilonggarkan selama enam prasyarat kunci dipenuhi oleh negara.

Pertama, penyebaran virus SARS-CoV-2 harus sudah turun ke level aman terkendali. Kasus-kasus positif COVID-19 hanya terjadi dalam “insiden sporadis atau klaster” yang sudah dilacak, dikarantina, dan ditangani oleh fasilitas kesehatan. 

Selain itu, jumlah kasus ini tidak melebihi kapasitas dari fasilitas kesehatan yang tersedia di suatu negara--utamanya fasilitas untuk karantina.

Kedua, pemerintah harus bisa “mendeteksi, melakukan tes, mengisolasi, dan menangani setiap kasus.” 

Deteksi dini dilakukan dengan screening besar-besaran, kapasitas tes memadai dan hasil tes wajib turun maksimal 24 jam setelah pengiriman, semua kasus bisa dikarantina secara efektif, dan pemerintah harus bisa melacak dan mengkarantina setiap orang yang melakukan kontak dengan pasien positif COVID-19.

Ketiga, risiko penyebaran virus di tempat-tempat rentan atau “hot spot” sudah diminimalisir sebisa mungkin. 

Contoh hot spot adalah tempat yang padat penghuni, terutama penghuni yang lebih rentan meninggal akibat COVID-19. Misalnya, panti jompo.

Keempat, tempat umum seperti sekolah dan kantor telah mewajibkan upaya pencegahan dan kebersihan diri seperti etika batuk, pemantauan suhu tubuh, physical distancing, dan cuci tangan rutin.

Kelima, risiko kasus baru dari luar negeri ditekan dengan pembatasan dalam skala tertentu terhadap pendatang dari negara-negara yang banyak kasus positif COVID-19. 

Pemerintah harus mampu menganalisis negara mana saja yang paling berisiko, dan punya kapasitas untuk melacak dan mengkarantina setiap orang yang tiba dari negara-negara tersebut.

Keenam, terakhir, masyarakat sudah mendapatkan sosialisasi tentang bahaya pandemi COVID-19 dan diberikan bantuan serta pemberdayaan untuk menjalani kehidupan mereka dalam kondisi “normal yang baru.” Hal ini termasuk tunjangan untuk masyarakat miskin serta bantuan sembako.

Nah, itulah dokumen rilis strategi update dari WHO dalam menanggulangi pandemi Covid-19. WHO menyampaikan bahwa kebijakan lockdown dapat dilonggarkan selama enam prasyarat kunci dipenuhi oleh negara.

Sumber Referensi Berita : 1 | 2 |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]